17 Okt 2013

♦♦ Live to Share ► To Short to Forget ♦♦

hmmm....tarikan nafasku sangat berat minggu lalu, bukan karena pekerjaanyang cukup banyak,
tapi pikiran-pikiran penuh yang tak tau dimana ujungnya..

Berawal dari perkenalanku dengan 'Dd', melalui Rizky. Aku menanggapi dengan baik.
Aku dapat foto D dari  rizky di hari selasa sore, tanggapan teman-teman tentang foto dirinya cukup baik. Look like nice guy, ditambah rekomendasi dari rizky yang mengenalnya juga.

Bisa ku katakan bahwa, D bukan orang pertama yang datang dan pergi setelah hancurnya hubunganku dengan X, tapi bisa ku bilang D adalah orang yang membuka mata, hati, dan pikiranku tentang sebuah hubungan, serius.

Perkenalanku dengannya cukup singkat, rabu di pagi hari, dia menyatakan diri untuk berkenalan denganku memlalui sms, siang....kamis, jum'at dia penasaran denganku dan berharap aku mau menemuinya, tapi tidak untuk sekarang dalam hatiku berkata demikian, sms-sms darinya berisi perhatian-perhatian yang lumayan, sederhana tapi tidak terkesan merayu.

Karna dia mendesak, akhirnya ku bilang bahwa aku mau menemuinya di hari minggu, di alun-alun kota. Penampilannya santai, denim maskulin. Rokok LA merah dan HP jadi tentengan. Overall penampilan lumayan, dengan parfum lembut yang mungkin mencerminkan kepribadinya.
Penampilanku juga sangat santai, jins, rajut bunga dan kerudung hitam. Make Up natural, tas tenteng dan muka sedikit malas.


Obrolan mengalir begitu saja, dan dia terlihat senang seperti yang dibilang rizky. Banyak informasi tentang dia yang tak sengaja ku kuak, meski hanya beberapa jam saja bersamanya. Tapi aku masih biasa saja. 
Minggu sore, dia mulai menyatakan diri untuk bermaksud serius, dan ingin memulai penjajakan. Bukankan ini terlalu dini, pikirku. Sampai bingung rasanya, apa yang dia lihat dariku hingga berani untuk memutuskan hal tersebut....

Maka, mulailah ku panjatkan doa, memohon petunjuk dari Allah, dengan mengosongkan hati dan pikiranku, mengosongkan cerita masa dulu, saat itu hanya aku dan Dia(Allah) saja, 
ku coba cari dan cari sosoknya, gambaran wajahnya...tapi tetap saja tak ku temukan, padahal hari minggu itu, aku benar-benar cermat memandang wajahnya, mengamatinya dari atas hingga bawah. Melihatnya tersenyum, yaa....senyumnya manis, karna dia sering lemparkan senyumnya.

Tapi sekali lagi, aku tak bisa menemukan dia didalam hati dan pikiranku. Sehingga ku putuskan untuk menceritakannya bahwa aku belum mendapatkan petunjuk dari Allah, dan ku bilang kepadanya bahwa untuk serius, sepertinya aku belum bisa.

Jika saat itu ku terima dia, mungkin saja saat ini akan ada hujan perhatian untukku.
Mungkin saja, saat ini aku jalan dengannya, menikmati hari bersamanya, menghabiskan waktu dan mengenalnya lebih. 
Dia penyayang, supel, perhatian walau kadang berlebih dan tak tau waktu.....*Harusnya bersyukur yaa karna dia memperhatikanku, dan yang terpenting adalah dia ingin serius.

Ternyata tidak lebih sari 10 hari aku mengenalnya, walaupun singkat tapi cukup menguras energi dan pikiranku.
Energi yang akhirnya dia telan mentah-mentah, dan seolah hanya menjadi alibiku saja untuk menolaknya. Tidak kah dia tau, bahwa aku benar-benar panjatkan do'a, karena aku juga tidak ingin main-main....???

Rabu(02/10/2013)-kamis-jum'at-sabtu-minggi-senin-selasa-rabu-kamis-jum'at(11/10/2013), kamis pagi ku putuskan untuk bicara dengannya dan membuat janji bertemu dengannya jum'at sore disuatu tempat, tapi kamis siang aku berubah pikiran dan membuat alasan klasik, dan aku putuskan untuk bicara dengannya melalui telpon saja jum'at malam harinya. 

Ku persiapkan hati, pikiran, dan perkataanku, aku tak mau membuat kesan apapun. Ku perhalus nada bicaraku, ku buat seceria mungkin, dan benar-benar ku tata ucapanku. Aku juga bersiap jika nantinya obrolan kami berubah menjadi hal yang tak terduga.
Aku dan Rizky penasaran, jika ku ungkapkan hasil do'aku, maka apa yang akan terjadi???
ternyata.... pikirannya terlalu jauh. 

Beberapa kali nada bicaranya sempat membuatku marah, bagaimana tidak, sedikitpun aku tidak meremehkan dia, aku menghormatinya, aku bicara baik-baik, menjaga hatinya. Dan sedikitpun aku tidak pernah membandingkannya, apa yang dia punya, pendidikan atau yang lain.
Tapi yang ku dapat, adalah kalimat merendah, judgemen seolah aku merendahkannya...
serta sebuah sikap tidak dewasa.

Pembicaraan sudah tidak nyaman lagi, dan bebrapa kali dia ingin menghentikan obrolan, ya sudah....aku sudah berusaha menyelesaikannya dengan baik-baik, aku yang menelphonnya, maka aku yang mengakhiri pembicaraan dengan menutupnya dengan salam, belum dijawab, telphon sudah dimatikannya. Hmmm....

Ya...mungkin saja, ada cerita masa lalu yang membuatnya trauma, siapa tau...????
Mungkin saja, karna tertanam doktrin, yang menyatakan bahwa "aku susah didekati". Padahal, aku sudah lama berubah. 
Ketika percakapan itu berlangsung, tidak ada usahanya untuk meyakinkanku.....

Sekali lagi, Allah maha tau yang terbaik untukku, mungkin petunjuk itu tidak selalu datang diawal, tapi mungkin juga datang belakangan....Trimakasih Tuhan, atas kesempatan mengenalnya, atas pelajaran yang dia berikan untukku. Semoga dia tidak kecewa pernah berkenalan denganku....
Karna pilihannya adalah menjauh dariku...itu dalah pilihannya, dan mungkin pilihan terbaik untuknya....



__☻☺☻__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar